Mungkin ketika aku sudah dipenuhi dengan berbagai macam prasangka terhadap seseorang, saat itu sebenarnya orang itu juga sedang survive...
Jadi minggu lalu ketika kuceritakan pada suamiku bagaimana jika si adik ini dilepas saja biar tau rasa, lagipula ia tak bisa diarahkan dan ingin mencari jalannya sendiri, ditambah lagi ia sudah sering terdengar mengeluh dengan kondisi kerja sekarang yang katanya sering lembur dll, suamiku gemas dan menegurnya. Terdengar marah sih bagiku yang selalu diperlakukan lembut sama Paksu. Jujur jiwa protektive sisterku ku rasanya bergetar, ingin kuhadang rasanya jika adikku disemprot orang lain. Yang boleh memarahi mereka cuma aku seorang. Tapi mau gimana ya, itu demi mereka juga.
Akhirnya setelah hari yang tegang, keesokan harinya adik laki-laki ini memulai percakapan via chat denganku. Dari hati disampaikannya apa yang ia rasakan. Ia merasa bersalah tapi juga kelelahan. Yang paling membuatku terkejut adalah pengakuan bahwa ia merasa depresi, ia sering bengong dan tidak tertarik dengan hal-hal. Ditambah lagi ia merasa takut dan ragu berhubungan dengan orang-orang baru, mungkin karena trauma covid 2 tahun tak bersosialisasi. Aku bukan psikiater tapi sepertinya ini gejala depresi, rendah diri akut dan anti sosial.
Di titik terendahnya inilah aku masuk dan memberikan insight. Kuberikan perasaan nyaman dan motivasi bahwa dia bisa berubah, aku percaya dan semua orang akan mendukung. Hasilnya? Ia ingin dan mulai berubah, bangun lebih pagi, mau mencoba dan melanjutkan kuliah, bahkan baru-baru turut campur pada proses registrasi online pendaftaran mata kuliah. Check list done. Sakit kepalaku hilang wkwk.
Nah yang satunya lagi juga sudah mulai berinteraksi, maklumlah mpls sudah mulai, banyak keperluan yang mesti di lengkapi, dan untuk melengkapi itu pasti butuh petunjuk dan pendanaan ya kan. Cih butuh duit aja sister disayang, gak butuh duit sister dibuang. Suka-suka banget gen z ini.
~


