Minggu, 29 Agustus 2021

Drama Masakan Rumah dan Luar Rumah

Weekend adalah hari favoritku karena libur hhehe. Btw kemarin aku ikut vaksin pertama yang di adakan HMPI Korwil Gowa rencananya di Klinik Utama Andi Baso Erang depan codel tapi pindah ke Gedung PPG Pesantren Madani Paopao. Karena datang cepat jadi selesainya juga cepat. Screening aman cuma pengecekan tensi darah sedikit tinggi 140. Ditanya usia, aku jawab 27, kata dokternya masih muda, tapi tensinya tinggi,  mungkin pengaruh cemas karena mau vaksin. Padahal aku gak ngerasain apapun gituloh, panik cemas atau takut vaksin nggak tuh. Kawatir dibikin lama jadi aku iya-iya aja.

Akhirnya ikut vaksin pertama

Ditemani Lisa, hari itu vaksinasiku selesai gak sampai jam sepuluh pagi. Soalnya mendengar cerita serta mengingat pengalaman rencana vaksin dulu di Citra Garden yang mana antriannya tidak main-main (akhirnya gagal vaksin), aku mempersiapkan diri untuk datang lebih awal, bahkan mendahului panita. Kalau gak salah sebelum jam 8 pagi. Setelah vaksin cus beli air kelapa. Ini informasi dari jalanan gak tau teori darimana katanya habis vaksin minum air kelapa. Oia aku vaksin ngajak rekan kerja, Pak Masnun dan Istrinya, Tapi karena antrian kita jauhan jadi langsung pisah. Pak Suami gak bisa ikut karena seperti biasa beliau ada agenda di kampung halamannya. Sekalian antar pulang Mertuaku dan Om Toro. Padahal dia yang kasih info vaksin berhubung ketupat adalah temannya, tapi malah dia yang gak bisa ikut. Sudahlah.

~

Sesuai judul, aku mau cerita tentang drama rumah tangga yang mana subjeknya adalah masakan rumah. Semenjak menikah, aku jadi merasa bertanggung jawab atas makanan hangat dan pakaian bersih keluargaku. Saat makanan yang kumasak dimakan, dan baju-baju bersih tersedia untuk dikenakan suamiku, aku sudah bahagia sekali. Yang kulakukan tidak sia-sia, pikirku. Tiap hari sebelum berangkat kantor aku akan memasak sarapan untuknya sekaligus makan siang. Tepat setelah masak aku akan sarapan sendiri karena Pak Suami biasanya ngemil duluan atau sudah sibuk kerja, nanti juga sarapan. Habis sarapan aku langsung siap-siap ngantor. Pulang kantor aku pasti masak lagi menyiapkan makanan hangat buatnya.

Nahh, beberapa waktu ini ternyata aku selalu mendapati makanan yang kumasak cuma berkurang sedikit, terkadang malah tidak disentuh selain olehku. Aku cuma bisa membuang sisa makanan-makanan itu dengan hati yang sakit (aku masak banyak karena kami ada 3-4 orang dan tiap keluar mereka seringnya sama-sama). Tanya suami, katanya dia makan diluar karena terlanjur jalan. Ini sering terjadi ya, jadi aku sempat komplain kalau dia lebih suka makan diluar aku gak papa, malah bagus gak usah capek dan repot tiap hari. Kita makan diluar atau pesan makanan saja tiap hari! Dia nokomen. Mungkin hati kecilnya setuju.

Kerjaan 20 ton

"Mungkin selesainya gak sampai malam," (tapi pulang tengah malam)

Kalau aku sudah marah seperti itu, dia akan diam, kadang meluk, kadang juga tiba-tiba kasih uang belanja. Aneh. Jadi aku bilang ke dia, "Kalau ada agendata' diluar dan ndak bisa makan di rumah, kasihtauka' supaya masakka' secukupnya saja.". Yah jawabannya sih kadang agendanya tidak tentu. Bisa jadi dia bilang pulang siang, ternyata sampai malam. Pengusaha mah gitu. Namun setelah kejadian-kejadian ini, do'i berusaha mengerti dan mengabari jika ada rencana atau kemungkinan makan diluar.

Untuk informasi aja makanan yang dibeli memang kadang lebih enak dari masakan rumah, tapi kita gak tau ada campuran apa didalamnya. Bisa saja makanan-makanan itu diberi bahan pengawet yang bisa menyebabkan berbagai macam penyakit. Soalnya baru-baru ini aku pernah curi dengar dari seorang penjual bakso, dia pakai obat (gak tau namanya, sebut aja pengawet) supaya kuah baksonya tidak mudah kecut/basi untuk waktu yang lama. Beda dengan masakan rumah yang sudah teruji kemanannya meskipun cepat basi. Apalagi aku baru-baru ini dapat ilmu tentang makanan sehat dari Istrinya Pak Masnun yang bilang sebaiknya makanan berminyak dikurangi. Tiap kali masak sebisa mungkin gak usah pakai minyak-minyakan, sekali dua kali aja seminggu. Terus bumbu penyedap gak perlu pakai msg, cukup garam dan gula. 

Aku akan terapkan resep ini di keluargaku dan menjadi keluarga yang sehat ya Blog. Okey sampai jumpa besok-besok.

Jumat, 27 Agustus 2021

Pesan dan Kesan dari sebuah Pergibahan

Gak di lingkungan tetangga, gak di lingkungan kerja, bergibah itu selalu jadi hal paling menarik untuk diperbincangkan. Demi apa, Selasa lalu aku berangkat kerja pukul 9.30 dan rekan kerja sudah nunggu di depan kantor. Memang sih sebelum berangkat kami udah saling WA dengan sedikit serius. Eh sampai di kantor, WA itu berlanjut menjadi lisan. Akupun mendengarkan segala unek-unek rekan kerja ini selama sejam lebih. Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaanku Blog? Aku bahkan belum meminum kopi yang belum kubuat dan aku harus mendengarkan semua itu. Oh my. Ya walaupun aku sedikit-sedikit menanggapi sih.

Gambar yang tidak sesuai dengan isi postingan

Keesokan harinya pun tak jauh berbeda, kali ini subjeknya bertambah. Dan tentu saja, orang-orang yang tidak menyukai orang yang sama saat berkumpul akan dengan mudah menentukan objek pergibahan. Tidak ada habisnya blog. Jujur aku tipe yang mudah sekali melupakan hal-hal karena aku merasa jika terlalu banyak ingatan (buruk) yang kusimpan maka akan mempengaruhi moodku. Dan berkat orang orang yang berkumpul hari itu aku jadi teringat kembali dengan kenangan buruk yang pernah kulalui. Pergibahan menjadi semakin berapi-api. Chilling. Astagfirullahaladzim.

Aku gak akan menceritakan isi pergibahan itu tapi aku mau cerita tentang pesan dan kesan yang kudapat dari kejadian ini.

1. Selalu mencari kebenaran informasi dari berbagai sisi. Karena setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda terhadap suatu hal. Meskipun cara penyampaiannya sama, bisa jadi pemahamannya berbeda sehingga terjadi konflik.

2. Simpan aibmu untuk diri sendiri. Sedekat apapun kamu dengan seseorang, jika telah diceritakan atau tampakkan ke orang lain, percayalah hal ini akan menjadi rahasia umum dan bahan pergibahan yang sangat berkesan.

3. Lebih baik diam. Ketika seseorang yang menyimpan amarah membicarakan hal buruk tentang orang yang membuatnya marah, tak usah berusaha membela pihak lain, cukup diam dan dengarkan (kalau perlu tambahkan sedikit bensin wkwk). Karena bagaimanapun kamu membela, orang yang marah ini tak akan mendengar, peduli, lebih-lebih percaya.

4. Terakhir,, aku akan menjadikan hal ini sebagai motto hidup, lupakan kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain dan selalu ingat kebaikan orang lain padamu. Sepertinya selain karena ketaksepahaman serta ketidakcocokan, hal yang membuat seseorang bisa menyimpan amarah adalah karena mengingat-ingat kebaikan kita kepada orang lain dan mengingat-ingat kejahatan orang lain kepada kita. Kenapa juga mesti diingat, kita baik ke orang gak usah pamrih, kalau pada akhirnya kita bermasalah dengan orang lain introspeksi diri mungkin saja kita melakukan hal yang salah. 

5. Lalu perhatikan cara seseorang bicara tentang orang lain kepadamu, seperti itu juga cara mereka membicarakan tentangmu pada orang lain. Oh hubungan-hubungan toxic ini :v

Jadi sekian postingan kali ini, sampai jumpa besok.

Rabu, 25 Agustus 2021

Sakit di Bulan Agustus

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." -Pramoedya Ananta Toer-

Dulu aku suka menulis dan suka orang yang menulis. Yah walaupun yang kutulis cuma diary sih. Namun sepertinya seiring waktu orang berubah. Aku juga berubah. Sekarang orang yang kusuka sama sekali gak nulis tuh. Mungkin itu sebabnya dia susah dibaca. Tapi aku suka. Jadi biar aku saja yang menulis untuknya. Hhehee.

Sebenarnya dua paragraf di atas adalah draft yang kutulis sejak bulan lalu. Hanya saja aku terlanjur malas untuk melanjutkannya waktu itu. Hari ini aku akan cerita secara random hal-hal yang kualami dan kurasakan baru-baru ini.

Jadi gini loh... Indonesia itu darurat PPKM. Sampai awal agustus kemarin Kabupaten Gowa baru saja mengakhiri PPKM Mikro Level 3. Apakah hanya sampai itu? Nggak pemirsahh! PPKM dilanjut lagi sampai 9 Agustus 2021. Kemudian dilanjut lagi hingga 23 Agustus. Usaha warkop jadi mandek. Kasihan kami UMKM yang mencari nafkah sudah konsumen terbatas, waktu usahapun harus dibatasi sedemikian rupa... Semoga semuanya lekas membaik. Amin YRA. 

Setelah idul adha tahun lalu tanganku pernah sakit, gejalanya kesemutan dan kram, tidak bisa melakukan aktifitas yang seperti memegang pisau, menggenggam, menyetir kendaraan dan sejenisnya. Seolah otot dipergelangan tanganku tertarik hingga rasanya begitu menyeri jika aku mencoba menggenggam. Menerka-nerka hingga mengikuti saran dari orang-orang sudah kulakukan. Apakah aku keseleo, terkena gejala rematik, asam urat, atau gimana. Ternyata penyakit ini hilang begitu saja setelah dua bulan. Hampir setahun kemudian, Bulan tujuh kemarin penyakit ini kambuh. Dua bulan aku tersiksa. Sakit rasanya. Aku sampai beli penyangga tangan yang ada besinya. Pengen berobat tapi gak pernah jadi. Aku cuma mengkonsumsi pereda nyeri seperti ibuprofen dan memijat2 pergelangan tangan pakai balsem. Kita terlalu sibuk dan penyakit ini seolah sepele.  

Masih dengan sakit tangan ini, 9 Agustus kemarin di tempat kerja aku tiba-tiba sakit, badanku menggigil dan demam, semua bagian tubuhku nyeri. Indra penciumanku hilang dan perasaku pahit gak ada yang enak. Pengen berobat tapi takut di kira covid dan kenapa2 di RS. Akhirnya aku isoman seminggu di rumah. Tiga hari aku demam. Aku tidur yang banyak, konsumsi obat penurun demam, pereda nyeri, vitamin dan buah-buahan. Udah mau sembuh, lah gantian my husband lagi yang demam. Doi mah parah sampai 2 minggu belum fit. Bahkan semalam aku sempatnya temani dia ke tempat refleksi maunya di pijat tapi karena waktu yang mepet cuma bisa di kop aja. Tadi pagi doi bilang udah lumayan insya Allah udah sembuh. Amiin. Berita bagusnya, sakit tanganku juga hilang. Akhirnya aku bisa beraktifitas dengan santai lagi gak tegang seperti 2 bulan terakhir yyeyye.

pasca sakit bb sampe turun 4 kilo

Ohiya akhir bulan tujuh, mertua dan saudara mertuaku jalan-jalan ke Makassar. Kita sekalian ke Malakaji menghadiri acara nikahan anak Tuan Tanah Ruko tempatku tinggal sama suami. Nama saudara mertuaku Om Toro, dia tinggal di Palu tapi ke Sulsel untuk lebaran dan menikmati waktunya selama di Sinjai dan Makassar.

Tetta Angka, Doi, Dwi

Om Toro dan tetangga ruko Ibu Ramlah

Jadi sekarang 5 hari menjelang september 2021. Ya Allah waktu berlalu secepat itu. Aku sudah menikah setahun lebih wkwkwk. Pengen punya bebi :' ya Allah Robbi hablii milladunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka samii'ud du'aa. Karena kondisi kami yang kurang sehat akhir-akhir ini ditambah kesibukan yang tak jelas, usaha-usaha tak pernah ada hasilnya. Kusebut dengan kesibukan yang tak jelas karena kita tak bisa menghabiskan waktu berkualitas bersama. Serumahpun aku jarang melihatnya. Sekamarpun kita jarang bertatapan. Aku akan sibuk dengan ponselku diapun demikian. Kadang rasanya pengen nangis karena bagaimanapun semua yang kubutuhkan adalah perhatian dan sentuhan. Eh tambah satu lagi, uang. Wkwkwk. Tapi pokoknya gitu deh, kita jarang banget menghabiskan waktu berdua, seringnya sendiri, bertiga, berempat, berlima dan seterusnya.