Minggu, 28 Juni 2026

Patah Hati Seorang Kakak

Apakah salah menuntut adik laki-laki terakhir agar memperjuangkan dirinya memiliki masa depan yang lebih baik? Gen z betul-betul memuakkan. Aku punya adik yang kuambil dan kuajak bersamaku sejak lulus SMP, kukira jika membawanya keluar dari rumah orang tua ia akan menjadi lebih baik dan bisa memiliki pandangan lebih luas tentang dunia dan kehidupan ini. Namun sepertinya yang kulakukan justru membuatnya merasa terlalu aman. Akhirnya ia begitu santai terhadap kehidupan dan seperti tak memiliki tujuan. Seolah-olah baginya kehidupannya sekarang sudah cukup memuaskan. Memang benar usianya masih muda, 19 tahun itu belum matang, tapi di usia dan gender ini seharusnya dia mulai menunjukkan tanda-tanda kesiapan, entah itu berkompetisi dengan dirinya ataupun minat dan ketertarikan untuk masa depan yang lebih baik. Kalaupun belum tahu ingin melakukan apa seharusnya ikut saja kata orang tua. Setiap kutanyai, ia hanya diam. Dan setelah menunggu setahun, akhirnya ia bersuara. Katanya ia belum berminat untuk melanjutkan pendidikan/kuliah, entahlah satu atau dua tahun ke depan, dia merasa tertekan jika terus kutanyai tentang hal itu, biarlah dia mencari jalannya sendiri katanya. Jawaban yang sungguh tidak kuduga-duga. Apakah ia bahkan ingat, persis sebelum kelulusannya di SMK dia minggat ke rumah orang tua dan tak memiliki arah tujuan saat itu? ia hanya berkumpul di rumah sepupu bersama teman-teman begadang hingga pagi yang entah apa aktivitasnya sampai akhirnya orang tua kami pasrah dan ia dibujuk kembali untuk mengikutiku dengan harapan bisa belajar berwirausaha. 

Whaaatt... spechless dah

Adalagi adik perempuan yang bersamaku. Usianya 15 tahun. Awalnya semua berjalan lancar, dia excited meskipun harus pindah sekolah dan berpisah dengan teman-teman di sekolah lamanya. Seiring waktu, entah apakah aku mungkin pernah melukai hatinya atau terlalu sering memarahinya, tiba-tiba ia mendiamiku. Fyi ia pernah kumarahi sampai menangis karena kesulitan mengerjakan tugas sekolah, ia juga kumarahi karena malas dan berantakan serta kurang mandiri. Kini setiap kuajak berbicara ia tak merespon. Rasanya bagaikan berbicara dengan dinding. Padahal anak itu dulu begitu memujaku, bahkan nama kontakku di hapenya kalau tidak salah adalah "seseorang yang sangat peduli padaku" versi Inggris. Entahlah sekarang, karena ia sangat menjaga privasinya. Komunikasi kita sangat minim, ia akan mengajakku bicara terlebih dulu jika butuh sesuatu. Meskipun aku berusaha membangun bonding dengannya, menanyai harinya atau apa yang membuatnya tertarik akhir-akhir ini, tak ada respon excited seperti yang kuharapkan.

Aku tak memiliki daya lagi blog, sebenarnya aku terlalu lembek atau terlalu keras pada anak-anak ini?? Jujur sebenarnya aku sudah berada di kondisi patah hati yang sanggup membuatku menangis. Aku bahkan meragukan diriku, apakah mungkin aku belum mendapatkan keturunan hingga saat ini karena Allah tahu aku belum mampu menjadi orang tua? Mengurus adik-adik saja gagal, bagaimana dengan anak, begitu kan?

Adik-adikku maafkan kakakmu ini yang membuat kalian tertekan atau bersedih. Sungguh akulah orang yang paling ingin melihat kalian semua sukses, nama kalian selalu ada di setiap doaku. Jadi semoga hati keras kalian bisa lebih lembut lagi padaku karena sesayang itu diriku terhadap kalian ;(

Yah itu sajalah unek-unekku blog.

0 komentar:

Posting Komentar